Tahun Baru Imlek 2571 Kongzili 25.1.2020 08:00

Produksi Besek Tambah Penghasilan Warga

Sabtu, 4 Januari 2020

Sungai Raya - Ketua Dekranasda Kabupaten Kubu Raya, Rosalina Muda, kian giat mengampanyekan pembuatan besek. Menurutnya, sudah saatnya masyarakat beralih dari menggunakan kantong plastik dan wadah tidak terurai lainnya ke besek. Karena itu, dirinya meminta ibu-ibu mulai aktif membuat besek. Besek adalah tempat berbentuk segi empat yang umumnya terbuat dari anyaman bambu. Kerap digunakan untuk menyimpan makanan. Belakangan dikenal sebagai wadah menaruh daging kurban, menggantikan plastik yang dinilai tidak sehat.

“Sekarang ini kami menggalakkan bagaimana caranya setiap agenda kita tidak menggunakan bungkus snack dan makanan dengan styrofoam atau kotak lagi,” tutur Rosalina di Sungai Raya, Selasa (31/12/2019) lalu.

Ia mengungkapkan, selaku Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Kubu Raya, dirinya selalu mendorong kaum ibu untuk mampu membuat besek. Dengan bahan serat alam seperti pandan berduri, bambu, daun nipah, kelapa, dan sebagainya. Jika produksi besek masyarakat mulai masif, maka itu dapat dijual ke Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).

“Jadi setiap ada agenda di desa atau kecamatan, kateringnya diminta supaya tidak memakai kotak atau styrofoam lagi. Tapi menggunakan besek. Begitu juga SKPD, kalau ada agenda kegiatan kateringnya boleh kemana saja tapi kami imbau tidak memakai kotak lagi melainkan besek,” tuturnya.

Ia menerangkan, masifnya pembuatan dan penjualan besek akan menjadi tambahan pendapatan bagi warga. Dirinya menjelaskan, selain manfaat ekonomi, besek merupakan pengganti dari penggunaan plastik dan styrofoam. Di mana kedua bahan yang umum digunakan itu merupakan zat yang tidak dapat terurai. Sehingga berdampak negatif bagi lingkungan.

“Karena kalau kita menggunakan styrofoam, itu limbah yang tidak bisa terurai,” ujarnya.

Rosalina mengungkapkan, program pembuatan besek juga menjadi salah satu upaya pelestarian alam. Dirinya menuturkan, botol plastik butuh waktu hingga 450 tahun untuk terurai. Sementara kantong plastik belanja perlu 100 tahun baru habis. Adapun kertas 4 minggu dan kardus 6 bulan baru hancur termakan alam.

“Kalau kita pakai kotak, bayangkan berapa banyak pohon yang ditebang hanya untuk bikin kotak yang ternyata sekali pakai langsung dibuang. Pohonnya hidup selama puluhan tahun kemudian ditebang untuk bikin kotak sekali pakai. Betapa sayangnya,” ucapnya.

Lebih jauh Rosalina mengajak semua pihak untuk peduli dengan lingkungan. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan bahan-bahan plastik.

“Jadi mulai sekarang kita berikan contoh kepada anak-anak kita. Bagaimana mencintai alam dengan cara mengurangi bahan plastik yang akibatnya sangat tidak baik bagi alam dan masa depan manusia,” pungkasnya.

=========================

SUMBER